Laporan KhususNasionalOperasi Brutal KM50
Trending

1. Kronologi lengkap kejadian saat di Jalan Tol

Pada minggu pertama di bulan Desember 2020, HRS menetap di Sentul Bogor. Selama berada di sana Laskar FPI mencurigai adanya Operasi Surveillance/Pengintaian terhadap HRS di rumahnya di Perumahan Nature Mutiara  Bogor.

Pada 6 Desember 2020 sekitar jam 22:45, HRS dan keluarga bersama rombongan berangkat meninggalkan Perumahan Nature Mutiara menuju sebuah Resost di Daerah Karawang untuk mengikuti pengajian keluarga.

Dipepet Mobil Asing di Jalan TOL

Siapapun tidak mengetahui jika mobil Asing tersebut adalah Mobil Aparat, karena tidak satu tanda pun jika itu Mobil Aparat.

Rombongan HRS terdiri dari 8 Mobil :

  • 4 Mobil ditumpangi HRS dan Keluarganya
  • 4 Mobil lainnya di tumpangi oleh Laskar FPI yang bertindak dalam mengawal HRS

Mobil Rombongan HRS akhirnya memasuki Tol Jagorawi arah utara menuju Jakarta, kemudia keluar ke Lingkar Luar Cikunir melewati menuju Jalan Raya Cikampek kemudian ke tempat tujuan utama di Karawang.

Gambar Illustrasi di Jalan Tol

Mobil Asing yang tak diakui Polisi ?

Sejak keberangkatan HRS dan keluarga dari Rumahnya di Sentul, Rombongan HRS diikuti oleh beberapa mobil.

  1. Avanza warna hitam dengan Nomor Polisi B 1739 PWQ
  2. Avanza warna Silver dengan Nomor Polisi B 1278 KJD
  3. Dan mobil lain yang tidak teridentifikasi

Dimana akhirnya Polisi menyatakan bahwa Mobil B 1739 PWQ dan B 1278 KJD tidak diakui sebagai mobil milik petugas Polda Metro Jaya yang sedang melaksanakan tugas pembuntutan tersebut.

Di jalan tol dalam perjalanan menuju Krawang ada upaya dari Mobil Asing untuk memepet iring-iringan HRS. Namun upaya tersebut selalu dihalangi oleh mobil FPI-Laskar.

Tugas Tim Laskar FPI adalah melindungi keluarga HRS dan Keluarganya, oleh karena itu mereka hanya bereaksi jika ada gangguan dari kendaraan tidak dikenal yang mengganggu dan / atau mendekati kendaraan HRS dan keluarganya.

Menguntit untuk membunuh

Mobil rombongan MRS dibuntuti sejak keluar gerbang komplek perumahan, masuk ke Gerbang
Tol Sentul Utara 2 hingga Tol Cikampek dan keluar pintu Tol Karawang Timur. /Komnas HAM

Sepanjang perjalanan menuju Kerawang banyak upaya manuver yang dilakukan oleh Mobil Asing ke arah iring-iringan Rombongan mobil HRS.

Reaksi FPI-Laskar hanya untuk mencegah dan menghindari salah satu mobil yang masuk ke dalam barisan konvoi.

Laskar Pengawal HRS mengamati bahwa para pengganggu itu tidak pernah mengidentifikasi diri mereka sebagai Polisi atau Petugas Hukum. Tingkah laku mereka di jalan raya tidak merepresentasikan tingkah laku Aparat Kepolisian melainkan lebih seperti Preman.

Mereka sangat berbahaya dan mengancam keselamatan serta nyawa rombongan yang selain HRS juga terdapat perempuan, bayi dan balita.

Laskar Pengawal HRS mengamati bahwa para pengganggu itu tidak pernah mengidentifikasi diri mereka sebagai Polisi atau Petugas Hukum.

Rekonstruksi Pembantaian KM50 yang banyak kejanggalan

Salah satu kejadian mirip preman itu antara lain saat rombongan menuju tol Cikunir.

Mobil yang dikemudikan Habib Hanif didekati oleh SUV hitam yang belum diverifikasi (mungkin Fortuner atau Pajero) dengan plat nomor B 1771 KJL.

Pengemudi mobil membuka jendela dan keluar dari mobil sambil memamerkan lengan bertato yang ditujukan kepada Mobil Habib Hanif, sambil mengacungkan jari tengah.

Senin, 7 Desember 2020 sekitar pukul 0.10 pagi (sepuluh menit lewat tengah malam), setelah Iring-iringan keluar di Karawang Timur, Laskar melihat 3 mobil Tanpa Tanda; Yaitu Avanza B 1739 PWQ Hitam, Avanza Silver B 1278 KJD & Avanza Silver K 9143 EL.

Inilah mobil-mobil yang selalu berusaha menerobos masuk ke dalam konvoi rombongan HRS. Situasi di dalam kendaraan HRS dan keluarga dalam keadaan ketakutan, dalam keadaan siaga penuh dan berdoa untuk keselamatan.

Untung saja 2 mobil FPI Laskar berhasil menghalau 3 Mobil Asing yang mendekati mobil keluarga dan tamu HRS. Posisi kedua mobil Laskar ini berada di ujung iring-iringan mobil.

Salah satu dari dua mobil Laskar tersebut adalah mobil Chevrolet metalik hijau berpelat B 2152 TBN yang ditempati oleh 6 Laskar FPI dari DKI Jakarta yang kemudian semuanya tewas setelah disergap dan dibantai oleh Polisi.

Artinya, 2 mobil laskar yang berada di ujung iring-iringan mampu membebaskan keluarga dan rombongan HRS dari teror yang datang dari 3 Mobil Asing tersebut.

2 Mobil Laskar berhasil menghentikan Mobil Asing yang melukai iring-iringan HRS.

Saat 2 mobil laskar tersebut keluar di Gerbang Tol Karawang Timur, salah satu mobil Laskar Avanza di paksa oleh salah satu Mobil Asing tersebut untuk menepi.

Untungnya Laskar yang ada di Avanza berhasil kabur dan melaju menuju Pintu Tol Karawang Barat, kemudian masuk jalan raya Cikampek dan memutuskan untuk istirahat di Resting Area KM 57.

Mereka disergap di KM50

Sementara itu Mobil Laskar lainnya (Chevrolet B 2152 TBN) dipisahkan dari mobil Laskar lainnya yaitu Avanza.

Berdasarkan komunikasi terakhir mereka dengan Avanza para Laskar di dalam Avanza mengetahui bahwa Chevrolet B 2152 TBN tertinggal di pintu tol Karawang Barat.

Dan mereka disergap serta ditangkap oleh orang-orang di dalam Mobil Asing yang kemudian ditemukan bahwa mereka disiksa dan dibunuh secara brutal.

Saat itu salah satu Laskar yang berada di dalam mobil Avanza yang sedang beristirahat di KM57 masih bisa berkomunikasi dengan Sofyan alias Bang Ambon, Laskar yang berada di dalam Chevrolet B 2152 TBN.

Melalui ponsel Laskar di Avanza diberitahu oleh Sofyan alias Bang Ambon bahwa dia dikepung tapi dia ngotot agar Laskar di Avanza tetap jalan.

Tapi kemudian Laskar di Avanza mendengar temannya Bang Ambon berteriak “tembak disini tembak ”, menandakan Bang Ambon berada di ujung senjata yang diikuti dengan suara manusia dengan suara pelan menderita kesakitan yang menyiksa yang hanya bisa dijelaskan bahwa Bang Ambon telah dieksekusi.

Laskar lain di grup juga sempat melakukan kontak dengan Faiz (Laskar lain di Chevrolet B 2152 TBN). Laskar ini juga mendengar suara dari seseorang yang mengalami kesakitan yang dalam seolah-olah dia telah ditembak tetapi sebelum dia dapat memastikan bahwa telepon telah terputus.

Untuk sementara laskar FPI dalam iring-iringan mobil kehilangan kontak dengan 6 Laskar yang berada di Chevrolet. Sampai Senin sore tanggal 7 Desember mereka belum diketahui keberadaannya.

Sore hari 7 Desember 2020, Kapolres POLDA Metro Jaya menggelar jumpa pers dan mengumumkan bahwa 6 Laskar FPI ditembak mati oleh Polri untuk membela diri.

Selanjutnya “Keterangan Tidak Konsisten Polri Terkait 6 Laskar FPI”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button