Investigasi KM50Laporan KhususNasional
Trending

4. Wajah aparat yang terlibat Pembantaian KM50

Merujuk pada laporan yang berhasil kami dapatkan
Pelapor adalah : Briptu Fikri Ramadhan
Saksi adalah : Bripka Adi Ismanto dan Bripka Faisal Khasbi Alaeya

Pelapor menyatakan melakukan tindakan tegas dan terukur karena kondisi dalam keadaan terdesak.

Jadi intinya Pelapor, Briptu Fikri Ramadhan terpaksa menembak karena terdesak.

Namun uraian singkat dalam laporan tersebut ternyata sampai hari ini terus berubah ubah.

Briptu Fikri Ramadhan dan Bripka Faisal Khasbi Alaeya ini, dalam beberapa Operasi penangkapan sering bersama sama. Mereka juga biasa mencari target dengan memantau Sosial Media Netizen di Base Camps Apartment Basura City Jatinegara.

Briptu Fikri Ramadhan dan Bripka Faisal Khasbi Alaeya juga yang menangkap EMIRAL WASKITA ALI DININGRAT di Hotel Oyo Jakarta Pusat, Emiral adalah salah seorang yg ikut berunjuk rasa menentang Revisi UU KPK.

Banyak orang berharap kepada Polri, jika benar tuduhan FPI itu teroris dan mereka ini adalah “Pahlawannya”. Ada baiknya Polri menampilkan para “Pahlawan Pembunuh” ini untuk diberikan penghargaan Polri di depan Publik.

Sementara M Rizal Fadillah (Pemerhati Politik dan Kebangsaan), memberikan tanggapan atas postingan ini.

Pertanyaan ini muncul sehubungan dengan beredarnya media sosial Oppositeleaks yang menayangkan foto dan pelaporan Briptu Fikri Ramadhan kepada Mabes Polri tanggal 7 Desember 2020 yang disertai dua orang saksi yaitu Bripka Faisal Khasbi dan Bripka Adi Ismanto. Uniknya Terlapor adalah enam anggota Laskar yang meninggal.

Banyak pernyataan mendesak agar Kepolisian segera mengumumkan nama-nama penembak dan personal lain yang terlibat dalam kasus yang menjadi perhatian nasional bahkan dunia. Kualifikasi kejahatan teringan berdasarkan Laporan Komnas HAM adalah pelanggaran HAM dengan indikasi unlawful killing.

Bungkamnya Polri hingga kini tentang siapa anggotanya yang telah melakukan penembakan hingga tewas tersebut tentu dapat menimbulkan banyak spekulasi. Ini kondisi yang tidak sehat. Dugaan bahwa Kepolisian sedang berfikir keras dan mencari skenario penyelamatan korps wajar menjadi opini publik. Korban tewas diputar menjadi penjahat sementara pembunuh sebagai pahlawan.

Munculnya tiga nama Fikri, Adi, dan Faisal didapat Oppositeleaks 6890 dari pelaporan 7 Desember 2020 pada hari yang sama dengan terjadinya peristiwa pembunuhan dini hari. Aksi sendiri dimulai jam 23.45 WIB tangga 6 Desember 2020. Briptu Fikri Ramadhan menerangkan tindakan aparat melakukan hal tersebut tak lain sebagai “tindakan tegas dan terukur kepada pelaku”. Publik menilai ini untuk mengganti diksi “menembak” (bacaan lain “membantai” dan “menyiksa”).

Keterangan Kapolda terkait KM50. Foto Tempo

Tiga hal kemungkinan terhadap tiga nama di atas, yaitu :

Pertama, Briptu Fikri, Bripka Adi, dan Bripka Faisal itulah yang melakukan penembakan sehingga yang ketiganya yang paling siap untuk mempertanggungjawabkan hingga ke proses hukum peradilan sesuai peristiwa atau skenario peristiwa.

Kedua, bukan ketiganya, tetapi mereka menjadi “pemeran pengganti” sekedar formalitas untuk melaporkan. Ada pelaku lain baik anggota Polri atau instansi lain yang menjadi eksekutor sebenarnya.

Ketiga, anggota Polri dan instansi lain berkolaborasi untuk mengeksekusi. Artinya dapat lebih dari tiga orang personil di atas. Proses penguntitan dan pembuntutan dilakukan bukan oleh satu atau dua orang. Banyak orang dan pihak yang diduga terlibat.

Siapa sebenarnya mereka itu tentu sangat mudah diketahui oleh lembaga Kepolisian yang telah mengakui bahwa penembak adalah aparat. Hanya hingga kini terjadi ke anehan bahwa hal yang mudah ini justru tidak diungkap. “Jangan grasa grusu” kata seorang pejabat Mabes Polri. Ini bukan soal grasa grusu akan tetapi fakta kejahatan yang mesti segera diusut. Justru betapa lambat kasus ini ditangani.

Ayo Pak Kapolri segera umumkan siapa pelaku yang melakukan unlawful killing itu. Benarkah Fikri, Adi, dan Faisal ? Jika iya tentu tinggal melakukan penyidikan, jika ternyata bukan, maka tidak boleh ada orang yang tidak bersalah harus dikorbankan. Kasihan.

Persoalan ini akan semakin jelimet dan bikin mumet perencana atau pembuat skenario jika bermotif untuk menutupi kebenaran.

Selanjutnya “5. TIM VOLI di Kilometer 50”

 

9 Comments

  1. Majuuu Terusss Pantang Mundurrr…. Tegakkan Keadilan !!!

    اَللّهُ اَكْبَرُ
    اَللّهُ اَكْبَرُ
    اَللّهُ اَكْبَرُ

  2. InsyaAllah semua akan terbongkar..dan pelaku serta penyuruh akan menerima hukuman setimpal .Terlebih siksa neraka buat dia nanti,akan berjuta kali lebih sakit dan lebih keras dibanding yg dialami oleh syuhada ini.Semua ada saatnya..tinggal menunggu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button