Catatan RedaksiHukumMiliterNasional
Trending

Air Mata Buaya Tito Karnavian di Kota Mekah

Bahkan tidak tanggung tanggung, Jenderal Tito Karnavian dari Poros Trunojoyo sanggup datang ke Mekkah dan menangis tersedu sedu dihadapan HRS.

Saat itu menjelang Pilpres 2019, tamu datang silih berganti mengunjungi kediaman HRS. Namun kali ini kediaman HRS kedatangan tamu khusus yaitu Petinggi Polri Jenderal Tito Karnavian.

Cukup mengejutkan kedatangan Tito tersebut, karena berdekatan dengan Pilpres 2019. Sebagai Tuan Rumah, HRS membuka pintu kepada siapapun yang ingin bersilaturahmi.

Namun kali ini kediaman HRS kedatangan tamu khusus yaitu Petinggi Polri Jenderal Tito Karnavian.

Sudah menjadi rahasia umum adanya “ketegangan Internal” antara Tito Karnavian dan Budi Gunawan, seperti diketahui Tito Karnavian melompati 4 Angkatan Polri yakni 1983, 1984, 1985, dan 1986. Alhasil, ia pun tercatat sebagai Kapolri termuda sepanjang sejarah Polri.

“Ketegangan Internal” tersebut dapat terlihat ketika Tito Karnavian mengajukan pensiun dini pada Juli 2017.

Mahfud MD mengumumkan Pembubaran FPI

“Ketegangan Internal” tersebut dapat terlihat ketika Tito Karnavian mengajukan pensiun dini pada Juli 2017.

Jauh sebelum HRS meninggalkan Indonesia, ada banyak pihak berupaya mendekati HRS. Namun upaya mereka dalam membujuk HRS untuk “bekerjasama” selalu menemukan jalan buntu. Dengan iming iming sejumlah dana fantastis pun tetap gagal dan ditolak HRS.

Upaya tersebut tidak hanya saat HRS berada di dalam negeri, saat HRS di luar negeri pun tetap ada upaya upaya dalam membujuk HRS agar tunduk kepada Rezim Penguasa.

Sulitnya HRS untuk pulang kembali ke Indonesia karena adanya tangan tangan tak kasat mata yang melobi Kerajaan Arab Saudi untuk mencekal kepulangannya, menjadi Momen bagi 2 Jenderal dari Poros Pejaten dan Poros Trunojoyo ingin memberi jalan bagi kepulangan HRS.

Bahkan tidak tanggung tanggung, Jenderal Tito Karnavian dari Poros Trunojoyo sanggup datang ke Mekkah dan menangis tersedu sedu dihadapan HRS. Dimana menurut pengakuannya ingin memohon maaf, bertobat dan bahkan siap menjadi ‘whistleblower”.

Dimana menurut pengakuannya, Tito Karnavian ingin memohon maaf, bertobat dan bahkan siap menjadi “Whistleblower”.

Pada tahun 2015, saat Tito Karnavian masih menjabat sebagai Kapolda Metro Jaya, pernah hadir dalam suatu acara dengan tema “Membangun Peradaban Dialog Antar Umat Beragama”.

Acara ini dihadiri HRS, H. Munarman dan pengurus FPI yang lainnya dan juga beberapa Ulama dan Tokoh. Pangdam Jaya yang saat itu dijabat Mayor Jenderal Agus Sutomo, serta sejumlah Kapolres dan pejabat lainnya juga ikut hadir. 

“Ini momentum yang sangat luar biasa bagi pandangan saya pribadi. Karena temanya mengenai dialog lintas agama. Tema yang sangat penting. Bukan hanya bagi Jakarta, tapi juga bagi Indonesia. Yang kedua, menariknya dilaksanakan oleh FPI. Alhamdulillah ini,” kata Tito

“Adanya kegiatan seperti ini, jelas akan melepaskan stigma yang mungkin dilabel oleh media masa. Kemudian memengaruhi publik, bahwa FPI adalah organisasi masa yang radikal, yang militan, yang identik dengan kekerasan dan seterusnya, intoleran,”

Dalam kesempatan itu, Tito mengaku bahwa perkenalannya dengan organisasi FPI cukup lama, termasuk dengan Rizieq Syihab. Dia juga mengetahui betul, pemikiran dan sikap toleransi beragama yang Rizieq terapkan.

“Tapi dalam kenyataannya saya paham. Karena saya sudah lama dengan teman-teman FPI, banyak bergaul. Termasuk berdiskusi banyak sekali dengan Imam besar, paham pemikiran beliau (Habib Rizieq). Beliau sangat toleran sebetulnya. Dan itu mewarnai FPI. FPI-lah ormas Islam yang sangat toleran terhadap agama lain,” ungkap Tito.

Menilik kisah balik, semasa Indonesia ikut dibuat tegang dengan ‘Kerusuhan Poso’. Peristiwa yang melibatkan kelompok Muslim dan Kristen selama tiga fase.

Tito menceritakan saat bersama Rizieq ikut terjun ke Poso, membantu mendamaikan.

“Kita tentunya masih ingat kasus Ambon dan di Poso. Antara umat Islam dan umat Kristiani. Saya betul masih ingat bersama pak Habib Rizieq, kita sama-sama nanganin Poso saat itu,” ujar Tito.

6 Tahun sudah berlalu, kini HRS, Munarman dan beberapa Ulama lainnya mendapat perlakuan kriminalisasi dari Rezim berkuasa. 6 Laskar pengawal HRS dibantai secara keji oleh Anggota Polri, Ormasnya dibubarkan, Rekeningnya dibekukan, Pemimpinnya di Penjara, Pengacaranya ditangkap layaknya Teroris.

Dan Tito Karnavian yang dulu menangis nangis di hadapan HRS, sekarang DIAM MEMBISU.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button