Catatan RedaksiHukumMiliterNasional
Trending

Anggaran TNI Dimainkan, Prajurit Jadi Korban

Memang sekarang bukan saatnya untuk saling menyalahkan, tetapi kalau saja Pucuk Pucuk Pimpinan TNI mendengarkan Jeritan Prajurit sejak dahulu dan mengesampingkan syahwat dunia dan kekuasaannya mungkin kejadian kejadian kecelakaan konyol seperti ini tidak akan terjadi.

Kapal ini usianya 40 tahun, dan menurut Info Para Pelaut dilapangan kapal ini terakhir di Overhaul 2015.

Harusnya overhaul pada kapal selam dilakukan tiap 3-5 tahun sekali, dalih kekurangan anggaran yang padahal anggaran tersebut buat bancakan para Petinggi Petinggi di TNI.

Namun ujungnya Nyawa Prajurit Prajurit terbaik pun jadi Korban.

Harusnya 2015 overhaul dilakukan di Jerman, di negara pembuat Nanggala 402 ini, tapi kenyataannya dilakukan di Korea Selatan oleh Daewoo. Juga terkait Proyek dengan Korea, Mega proyek Alugoro dan KFX/IFX ini sudah memicu jeritan para Prajurit.

Kembali ke Nanggala 402, Kapal ini pernah juga gagal dalam menyelam tahun 2020 saat uji coba namun sistem pelampung bekerja dan tetapi berita ini tidak naik ke awak media.

KRI Nanggala-402 adalah kapal selam kedua dalam jenis Kelas Cakra setelah kapal selam generasi sebelumnya, KRI Cakra-401. KRI Nanggala termasuk dalam jajaran armada pemukul milik TNI-AL.

Sistem penggerak kapal itu adalah motor listrik Siemens jenis “low-speed” yang disalurkan langsung melalui sebuah “shaft” ke baling-baling kapal.

Total daya yang dikirim adalah 5.000 shp (shaft horse power), tenaga motor listrik dihasilkan oleh baterai-baterai besar yang beratnya sekitar 25 persen dari berat kapal.

Kapal selam KRI Nanggala-402 itu memiliki 14 buah senjata torpedo buatan AEG dan dapat diincar melalui periskop buatan Zeiss yang diletakan disamping “snorkel” buatan Maschinenbau Gabler.

KRI Nanggala memiliki berat selam 1,395 ton dengan dimensi 59,5 m x 6,3 m x 5,5 m, berpenggerak mesin diesel elektrik yang sanggup mendorong kapal hingga kecepatan 21,5 knot dan diawaki 34 Pelaut.

Andai Pucuk Pucuk Pimpinan tidak memaksakan menjadi 53 Pelaut.

Awalnya kapal ini hanya untuk acara ceremony dalam kejadian tersebut, kapal ini mau dibuat seolah masih mampu menyelam dan mampu menembakkan torpedo dan setelah itu para pejabat tepuk tangan dan ada acara penyematan penghargaan kepada Pucuk Pucuk Pimpinan yang bersyahwat.

Padahal aslinya Prajurit Prajurit sudah teriak bahwa kapal ini tidak mampu lagi menyelam dilaut yang kedalamannya sampai 700m dan torpedonya pun tidak layak digunakan.

KRI Nanggala memiliki berat selam 1,395 ton dengan dimensi 59,5 m x 6,3 m x 5,5 m, berpenggerak mesin diesel elektrik yang sanggup mendorong kapal hingga kecepatan 21,5 knot dan diawaki 34 Pelaut.

Andai saja Pucuk Pucuk Pimpinan tidak memaksakan beban awak menjadi 53 Pelaut.

Jangan lagi ada Prajurit jadi korban ketamakan Pimpinan

Kapal Selam KRI Nanggala 402 tenggelam pada pukul 03:00 pagi saat latihan menjelang Gladi Resik peluncuran Torpedo, namun baru sampai ke Panglima dan dilaporkan ke Presiden pada pukul 13:00 siang.

Indonesia tidak memiliki Rescue Vessel / Kapal Penyelamat untuk menyelamatkan Kapal Selam yang tenggelam, mengingat keadaan ini seharusnya Kasal Laksamana Yudo Margono segera mengambil tindakan cepat.

Berkordinasi dengan Panglima TNI agar mengambil tindakan penyelamatan terhadap Prajurit Prajurit TNI AL yang terjebak dalam KRI Nanggala 402. Mungkin dengan meminta bantuan kepada Australia, Singapura atau Amerika.

Namun semua sudah terlambat jarak waktu laporan dari jam 03:00 hingga diterima Panglima TNI pada 13:00, kemudian diangkat Media pada pukul 15:00. Padahal waktu tersebut bisa digunakan secepat mungkin untuk berkordinasi dengan Rescue Vessel / Kapal Penyelamat untuk menyelamatkan KRI Nanggala 402.

Ada baiknya para pemegang kuasa dan Pucuk Pucuk Pimpinan TNI, tidak bermain main dengan nyawa para Prajurit Prajurit ini untuk memenuhi syahwat bancakan.

Para Pimpinan TNI yang membina Prajurit, yang memberikan doktrin Prajurit dengan Jiwa Korps.
Demi Merah Putih dan Sumpah Prajurit, janganlah ada lagi ego-ego pribadi.

Jangan kan cari Kapal Selam, cari Land Cruiser Hitam aja Impoten.

Apa anggaran Intelijen dipotong juga ?

Atau memang sengaja menghilangkan barang bukti ?

Semoga dengan kejadian tenggelamnya KRI Nanggala 402 ini menjadi koreksi kepada kita semua dan semoga tidak akan ada lagi kecelakaan konyol seperti ini lagi.

Ingat semboyan kita.

Jalesveva Jayamahe.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button