Investigasi KM50Laporan KhususNasional

1. Keterangan Keluarga Korban di DPR

Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat, menggelar rapat dengar pendapat umum atau RDPU dengan keluarga para korban Pembantaian KM50

RDPU yang digelar Kamis 10 Desember 2020, dihadiri sejumlah keluarga korban. Sidang terlihat dipimpin oleh pimpinan Komisi III Desmon J Mahesa.

Para keluarga korban yang datang antara lain antara lain Kakak M. Suci Kadhafi – Anandra, Ayah Lutfil Hakim – Daynuri, Paman Andi Oktiawan – Umar, dan Kakak Muhammad Reza – Septi.

Tak pantas disebut sekedar penembakan, ini Pembantaian.

“Anak saya tidak membawa senjata apapun, pisau saja tidak apalagi pistol. Lalu Senin sore (7/12) saya dapat kabar dari tetangga bahwa anak saya termasuk yang diculik,” kata Daynuri.

Dalam rapat dengar pendapat tersebut, Wakil Ketua Komisi III DPR Desmond J. Mahesa mengatakan, “kami ingin mendengarkan keterangan pihak keluarga korban, karena salah satu mitra Komisi III DPR adalah kepolisian. Kami ingin dengar harapan keluarga korban kepada Komisi III DPR.”

Mahesa mengatakan, RDPU tidak masuk pada ranah apakah peristiwa itu terjadi tembak-menembak seperti yang disampaikan polisi atau kasus penculikan. Karena itu menurut dia, dalam RDPU tersebut Komisi III DPR ingin mendengarkan harapan para keluarga korban.

Tembak menembak dengan luka bekas penyiksaan ?

Daynuri ( Ayah Lutfil Hakim ) menjelaskan pada Kamis (3/12/2020), anaknya meminta izin untuk mengawal Habib Rizieq Shihab.

Pada Minggu (6/12/2020), pukul 14.00 WIB, dia masih berkomunikasi dengan Lutfil. Lutfil ketika itu mengatakan belum bisa pulang dan meminta orangtua tidak khawatir dengan kondisi kesehatannya.

Setelah itu dia tidak komunikasi dengan Lutfil lagi.

Namun pada jumpa pers, Polisi menyatakan terpaksa menembak karena laskar FPI menyerang terlebih dahulu dengan senjata api.

Keterangan tersebut dibantah oleh Daynuri.

“Anak saya tidak membawa senjata apapun, pisau saja tidak apalagi pistol. Lalu Senin sore (7/12) saya dapat kabar dari tetangga bahwa anak saya termasuk yang diculik,” kata Daynuri.

Ia menceritakan saat memandikan jenazah Lutfil, terdapat empat luka bekas tembakan di dada kiri hingga tembus ke bagian belakang, pipi bengkak, dan punggung gosong seperti luka terbakar.

Umar menjelaskan di tubuh Andi Oktiawan terdapat sekitar 4 luka bekas tembakan dan dia menduga keponakannya mendapatkan tembakan dari jarak dekat, mata memar, dan kepala belakang bolong.

Umar ( Paman Andi Oktiwan ) menceritakan bahwa pada Sabtu (5/12/2020), dia menghubungi keponakannya, Andi, dan dikatakan kondisinya sehat serta masih mendampingi HRS.

Setelah itu, dia tidak mendengar lagi kabar keponakannya hingga mendapatkan informasi bahwa Andi telah meninggal dunia.

“Senin (7/12) siang saya dapat kabar, sebenarnya saya tidak tanggapi karena belum dapat gambar atau foto. Lalu Selasa (8/12) terjadi penyerahan jenazah Andi, saya lihat kenapa kondisinya seperti itu. Sadis,” ujarnya.

Umar menjelaskan di tubuh keponakannya terdapat sekitar empat luka bekas tembakan dan dia menduga keponakannya mendapatkan tembakan dari jarak dekat, mata memar, dan kepala belakang bolong.

Apakah memang harus membantai 6 Nyawa ?

Sedangkan Anandra menjelaskan, keluarganya belum mendapatkan barang-barang pribadi Kadhavi, di antaranya telepon genggam, tas, dan dompet.

Mereka sudah menanyakan kepada pihak yang berwenang, namun barang-barang Kadhavi belum diserahkan. Ponsel Kadhavi, kata Ananda, antara lain berisi foto-foto keluarga yang diambil ketika Kadhavi masih hidup.

Ia menceritakan, saat ayahnya yang memandikan jenazah Kadhavi, di tubuh Kadhavi ditemukan tiga luka tembakan di dada, di punggung terdapat luka seperti diseret, dan jidat berwarna biru.

Dalam RDPU, anggota Komisi III Sarifuddin Sudding mengatakan akan menindaklanjuti harapan keluarga korban agar keadilan bisa ditegakkan dalam peristiwa tersebut.

Sudding pun sempat menanyakan terkait kondisi jenazah para korban yang telah diserahkan kepada pihak keluarga lalu telah dimakamkan beberapa hari yang lalu.

“Saya ingin menanyakan kapan mendengar kabar bahwa keluarga anda meninggal dunia, lalu kondisi jenazah bagaimana saat diserahkan kepada keluarga,” kata dia.

Berharap keadilan kepada Rezim ?

“Kami mohon bantuannya keadilan di dunia ini. Kalau di akhirat pasti diadili, tapi kami minta keadilan di dunia ini,” ujar Anandra di lokasi, Kamis (10/12).

“Satu lagi, anak-anak kami tidak pernah membawa senjata satu pun ataupun perang seperti yang diinformasikan. Buat apa? Karena itu niatnya baik bukan untuk perang, niatnya baik dan kami mohon anak-anak kami sudah dibunuh lalu difitnah,” kata wanita berkerudung biru itu.

Kemudian, ayah dari Lutfi, Dainuri juga meminta keadilan kepada Komisi III. Dia menganggap peristiwa ini merupakan bagian dari perbuatan biadab.

“Karena itu kelihatan kebiadaban, dari fakta yang ada karena itu meminta keadilan dari Komisi III, mudah-mudahan dapat terungkap apa yang dilakukan yang membunuh anak saya ini. Saya minta keadilan,” kata dia.

Hal serupa juga disampaikan oleh paman Andi Oktiawan, Umar. Dia mengatakan, peristiwa ini bukan sebuah rekayasa. Karena itu dia meminta keadilan harus ditegakkan.

“Sudah jelas ya, kejadian-kejadian yang terjadi. Jadi saya mohon telah kita lihat semua kalau sudah seperti ini jangan difitnah kembali sudah jelas semua ini bukanlah rekayasa,” kata Umar.

Jadi sudah jelas semuanya ini pembantaian dan penyiksaan saya mohon nanti dari pihak-pihak diusut semuanya sampai ke akar-akarnya itu aja permintaan saya,” tambah dia.

Tuntutan serupa juga disampaikan Kakak Reza, Septi. Dia meminta keadilan bagi kematian Reza.

“Saya minta seadil-adilnya nyawa dibayar nyawa, adik saya enggak pernah bawa senjata. Adik saya keamanan di rumah enggak pernah bawa pentungan apalagi senjata. Ya pokoknya seadil-adilnya,” ucap dia.

Selanjutnya “Investigasi Independen Jurnalis di KM50”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button