HukumKembalinya HRSNasional

Wanted Munarman – Dead or Alive ?

Kriminalisasi , Penangkapan hingga penahanan HRS bukanlah ujung dari segala permasalahan, setelah operasi pembunuhan terhadap HRS dan  keluarga di jalan tol yg mengakibatkan 6 orang laskarnya dibantai. Permasalahan semakin panjang dengan pembubaran Ormas FPI.

Pembantaian 6 laskar, penahanan HRS dan pembubaran FPI, tidaklah membuat semangat para ex pengurus dan simpatisannya mengendur. Justru perlawanan terhadap kekejian oleh aparat yg membantai 6 dgn mengatasnamakan Negara semakin kencang.

Upaya dilevel nasional dijegal oleh Rezim Jokowi pun tidak membuatnya berhenti. Bahkan kini permasalahan tersebut dibawa ke Mahkamah Internasional.

Operasi Sistematis Penguasa

Ini skenario dari pihak yang sudah diketahui siapa otak dan command responsibilitynya.

Hal ini tidak dapat dipungkiri bahwa Munarman sebagai salah satu ex pengurus FPI yang menangani bidang hukum menjadi target setelahnya. Sejak kejadian KM 50 teror terhadap dirinya semakin kencang.

Bahkan dari kawan terdekat yg mempunyai kedudukan dikalangan rezim telah mewanti2, agar sebaiknya Munarman dkk tiarap aja, percuma melawan rezim yg mereka mengatasnamakan Negara. Karena munarman khususnya telah ditarget Dead or Alive.

Walaupun yg mendapatkan terror bukan khusus Munarman, tapi banyak pengurus FPI yg terus dikuntit dan diintimidasi pribadi hingga keluarganya.

Membuat Stigma seolah FPI Teroris ?

Sedangkan info terakhir desakan Pejaten ke WC agar segera mencari pasal untuk Munarman tampaknya sedang dimainkan. Munculnya seseorang terduga teroris mengatasnamakan EX- FPI merupakan signal.

Bahwa ada sesuatu sinetron baru yg sedang dimainkan. Jelasnya skenario ini memang mempunyai target.

Pertama : Menstigmakan FPI sebagai Teroris

Kedua : terduga menyebut nama Munarman dalam kesaksiannya atas baiat ke ISIS pd 2015 silam.

Setiap sinetron pasti punya tujuan bagi pemirsanya, entah membuat senang, sedih atau perasaan lainnya. Dalam sinetron ini, dapat diduga bahwa ada upaya menjegal kasus pembantaian KM50 dengan menstigmakan FPI adalah teroris.

Upaya Kriminalisasi terhadap Munarman yg dianggap ikut melakukan pembaitan pd ISIS 2014 silam, sehingga kasus pembantaian KM50 terbengkalai.

Sedangkan kehadiran Munarman saat itu adalah diundang sebagai pemateri / narasumber dalam acara diskusi Umum terkait Perpolitikan Dunia secara Global.

Jadi bukan rangka pembaitan isis sebagaimana opini disebarkan. Dan lagi sejak 2014 HRS sendiri berulangkali telah menyatakan kesesatan isis dan menolak pembaitan semacam itu.

Menjegal Kasus Pembantaian KM50 ke Mahkamah Internasional ?

Jadi dapat disimpulkan bahwa ada yang panik atas dibawanya kasus pembantaian KM 50 ke Mahkamah Internasional, maka perlu diputus jalurnya yaitu dengan mengkriminalisasi Munarman dan menstigmakan FPI sebagai organisasi teroris.

Mari masyarakat berfikir cerdas, agar tidak ikut dalam rangkaian kedzoliman yg semakin besar dan suatu saat menimpa pada diri sendiri.

International Criminal Court

Ini skenario dari pihak yg sudah diketahui siapa otak dan command responsibilitynya.

Ini operasi sistematis yang terus berlanjut terhadap FPI dan mantan pengurusnya. Itulah maka sejak awal FPI menyatakan bahwa pembunuhan terhadap 6 penduduk sipil yang mengawal HRS adalah operasi yang sistematis dan merupakan bentuk pelanggaran HAM Berat, karena jelas sekali para pemain orkestranya sahut sahutan dan dengan menggunakan instrumen kekuasaan yang sedang dipegang.

Mari berfikir cerdas ?

Hanya orang yang ditutupi selimut kepentingan dunia yang tidak bisa melihat betapa ada operasi yang sistematis, terencana, meluas dan brutal serta bengis terhadap FPI dan para aktivisnya.

Contoh kongkrit selain pembunuhan berencana oleh pemegang command responsibility ini adalah berbagai operasi lanjutan seperti pemblokiran rekening, operasi media untuk cipta kondisi mencari legitimasi dan operasi survaillance (penguntitan) yang terus berlanjut terhadap para aktivis FPI.

Rumah beberapa aktivis dan pengurusnya saat ini dimonitor 24 jam, satpam perumahan direkrut dengan dibawah tekanan untuk melaporkan aktivitas pengurus FPI yang dijadikan target tersebut.

Mari masyarakat berfikir cerdas, agar tidak ikut dalam rangkaian kedzoliman yg semakin besar dan suatu saat menimpa pada diri sendiri.

Rakyat sudah tahu siapa siapa komplotan para pembunuh sadis tersebut. Saat ini mereka sedang menggunakan issue terorisme kepada FPI untuk mengesahkan tindakan pembunuhan berikutnya terhadap para aktivis FPI, paling tidak memenjarakan dengan issue terorisme yang dibangun dengan memanfaatkan cerita cerita wayang.

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button